Aku tersudut dalam diorama yang kuciptakan dengan teorema kesedihan.
Dalam gerak yang statis, kupandu diriku mencari paket energy yang hilang.
Tapi aku tetap saja tak menemukannya.
Ketika manusia lain bersuka cita,
aku menangis, meratap dan menjerit dalam episentrum jiwa.
Tak ada yang coba menenangkanku,
karena mereka telah mensubstitusi diriku dengan yang lain.
Sebuah pergeseran kebiasaan terhadap waktu yang kualami ini,
melemahkan, merapuhkan dan menjatuhkan diriku.
Tak ada momentum yang tepat untukku melepas kegalauan
Memecah diorama ini menjadi pecahan-pecahan kaca kecil.
Diam memiliki ambiguitas yang tinggi.
Bisa berarti limit atau tidak sama sekali.
Kau tahu, aku sekarang mendekati sebuah matriks kehampaan.
Tapi aku tetap bertahan ditengah diferensiasi dan integralnya perasaan.
Postulat-postulat asing yang kuterima,
hanya sebagai lilin dalam kegelapan yang abadi.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)













0 comments:
Post a Comment
Berkomentar Gratis Backlink... ^^